Menanjak Burangrang

Posted in Gombalan by Bas on November 9, 2009

Selepas ritual kopi sore di “opis” saat hari jumat tanggal 6 November kemarin, seorang kawan saya, Ariza memberikan tawaran gila.

“Besok Minggu naik Burangrang, piye?”

Saya tidak berani ambil resiko untuk hari Minggu sehingga diputuskan untuk berangkat sabtu sore, rencana pukul 8 sore dari Bandung. Setelah semua persiapan cukup, Sabtu pagi saya berangkat ke Bandung. Setibanya di Bandung pukul 12 siang, ternyata Ariza dan Fadli tidak ada di tempat singgah lab CnC. Mereka sedang memacu mountain bike dan tersesat mencari jalan di daerah Dago Pakar dan baru pukul 2 siang mereka tiba. Kemungkinan menanjak Burangrang kali ini sepertinya gagal, mengingat stamina mereka mungkin habis untuk mountain bike.

Benar, rencana awal keberangkatan dari Bandung menuju Cimahi pukul 8 sore gagal. Kami masih asik bicara dan makan sampai pukul 10 malam. Tidak sesuai rencana, akhirnya kami berempat berangkat dengan dua motor menuju Cimahi pukul 11 malam menjemput satu teman lagi yang berpengalaman di medan Burangrang, Iwing.

Dari Fly Over Cimahi, kami berlima (Agung, Ariza, Fadli, Iwing, Bas) pun berangkat naik angkutan umum ke SPN (Sekolah Kepolisian Negara) di Cisarua. Dari SPN kami pun berjalan menuju Legok Haji, jalur ini kami pilih sebagai jalur keberangkatan dan jalur Komando sebagai jalur kedatangan.

Sesampai di Legok Haji mendekati pukul 1 malam, dengan berat hati kami harus memutuskan untuk memberikan kesempatan Fadli istirahat di mushola saat itu dan pulang ke Bandung saat pagi. Kondisi Fadli sudah tidak fit untuk meneruskan perjalanan, hal ini karena Fadli kehabisan stamina setelah memacu mountain bike di Sabtu pagi.

Akhirnya hanya tinggal kami berempat mulai menanjak Burangrang menembus malam dengan temaram cahaya separuh bulan, pukul 1 malam. Dengan diawali melangkah di punggung bukit yang rendah landai. Namun setelah masuk hutan, yang tersisa hanya lintasan yang menurut saya tidak pernah landai, hanya curam tajam. Kami sangat bersyukur saat itu tidak hujan, betapa licin dan susahnya tanjakan yang ditempuh jika hujan turun.

Kami harus memutuskan berjalan pelan santai mengingat perjalanan dilakukan malam hari. Masing diantara kami membawa senter, namun saat kira-kira jam 3.30 battery senter yang saya pakai sudah tidak berfungsi. Alhamdulillah dengan jarak yang dekat antara kami membuat sorot sinar senter Agung dan Ariza yang dibelakang bisa menerangi jalur di depan saya. Setelah berjuang menahan kantuk dan lelah, kami sampai di tugu puncak Burangrang mendekati pukul 5 pagi dan bertemu 2 team lain yang sudah lebih dulu tiba dan menginap di puncak sebelum kami.

Siluet fajar di ufuk timur adalah hadiah bagi kami berempat yang lelah, Serngenge melethek.

Kami langsung ambil tayamum dan shalat shubuh berjamaah. Selesai menikmati saat-saat matahari terbit dan istirahat, kami pun menyantap sarapan pagi, benar-benar surga dunia :)

Kami berempat turun pukul 7.30 menempuh jalur pos Komando melewati hutan bambu dan pinus. Alhamdulillah , capek dan amazing weekend :)

T5120: Cover Removed

Posted in SPARC by Bas on October 7, 2009


It’s been a while for me to meet T series machine of SUN’s product. A T5120 machine is reported breaks-down and refuses to be powered-on. By diagnostic command from ALOM environment, it shown error log that indicates everything is okay but chassis top cover removal.


sc> showfaults
...
Fault    1 /SYS/MB           SP detected fault: Chassis cover removed.
sc>


According to related technical document, this message is classified into critical case. If the chassis cover has been removed, ALOM records the message and the platform hardware turns managed system power off immidiately as a precautionary measure. We could say it affects to the operating system completely shutdown abnormally and refuse to be powered-on.

The curious thing is, I did not get the error message from ILOM environment by diagnostic command.

By time, unmounting the machine and open its top cover chassis also without any changes, I put top cover chassis properly to it and remounting it into its rack. After plugging power cables and checking into ALOM environment, I got no error message. Problem is solved and platform is running well.

Please be careful when handling T machine :P
.

Guru Manalagi

Posted in Gombalan by Bas on September 10, 2009
Ketika membaca puisi Tuhan Sembilan Senti karya Taufiq Ismail, ada bait yang menggali kenangan masa sekolah tingkat dasar.

"Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok."

Saya ketawa-ketiwi sendiri saat membaca berulang bait tersebut :)

Dulu di tempat saya sekolah tingkat dasar, adalah keharusan mulai dari kelas empat sampai kelas enam, kepada para siswa untuk belajar dan menghafal kosakata bahasa Arab yang berpola. Pelajaran ini disebut sharaf atau grammar dalam bahasa Arab, atau dengan kata lain pelajaran tentang perubahan kata dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Seperti dalam bahasa Inggris kita mengenal perubahan kata seperti “give-gave-given”

Setiap awal pelajaran, sang guru memanggil satu persatu muridnya untuk maju ke depan untuk diuji hafalannya. Sang guru biasanya sudah menentukan materi yang harus dihafalkan di pelajaran hari sebelumnya.

Jika hafalan si murid tidak sesuai target, phew…. Sang guru akan memberikan hadiah cubitan di lengan kanan dan kiri.

Kalau diingat kembali, rasanya saya termasuk siswa yang bebal waktu itu. Banyak target hafalan yang terbengkelai. Alhasil, banyak cubitan yang saya terima dari sang guru. Bukan hanya sakitnya cubitan yang kami rasakan, malu bukan kepalang juga menghinggapi kami di depan kelas. Bisa dikatakan, pelajaran sharaf ini adalah momok yang dihindari :)

Tapi saya heran, saat ini pun masih ada sisa pola perubahan kata itu yang saya ingat seperti berikut:

“Nashara// Yanshuru// Nashran// Nashirun// Manshurun// Unshur// La Tanshur”

“Sudah Menolong// Sedang Menolong// Pertolongan// Penolong// Yang Ditolong// Tolonglah// Jangan Menolong”

Terkesan keras mungkin pola pendidikan yang diberikan saat itu, namun semua kenangan itu justru berkesan. Guru yang selalu memberikan tuntunan akidah & akhlak, yang selalu memberikan pendidikan dan tidak hanya memberikan pelajaran, adalah mereka yang bisa menjadi pilar bangsa bukan? :)

Saat masih duduk di kelas dua sekolah tingkat dasar, salah satu guru favorit saya pernah berujar kira-kira seperti ini, “Aku akan sangat senang menyaksikan kalian menjadi orang mulia, orang yang memberikan manfaat kebaikan bagi yang lain” “Meski sekedar menawarkan tumpangan sepeda ontel”

Jadi guru itu enak apa enggak yaa? :)

.