Beberapa minggu ini saya melihat iklan bagus dari produsen soft drink. Dengan latar daerah Afrika Selatan dan tema World Cup, iklan tersebut benar-benar menyampaikan pesan suatu perubahan, sangat memukau dengan ide brilian.

Di awal era 90an, saya banyak tertarik dengan iklan rokok. Iklan rokok dari Paman Sam yang menyuguhkan kehidupan Cowboy dengan iringan lagu The Magnificent Seven dan iklan rokok produksi dalam negeri. Iklan rokok dalam negeri ini dikemas dengan durasi kurang lebih 30 detik yang menyuguhkan aroma Indonesia, iklan yang sangat menawan. Saya suka dengan pilihan lirik, lagu dan segalanya di iklan tersebut, komposisi yang begitu indah. Jauh sebelum konsep iklan Visit Indonesia disebarkan sebagai iklan publik.

I love the blue of Indonesia
It’s the flavour in the air
I love the blue of Indonesia
You can taste it everywhere …

I love the blue of indonesia
It’s the kind of blue …

I love Indonesia. Uhibbu Indonesia. Saya cinta Indonesia. Apakah anda memiliki iklan kenangan?

Mbeling : Pupus

January 21, 2010

Meski berat, aku rasa tidak perlu lagi larut dalam sedih. Mengingat masih banyak hal yang harus diselesaikan hari ini. Mister Karyo sudah mewariskan hidupnya padaku sepeninggal bapak dan emak. Dia bukan jenis orang tua yang cengeng, tidak. Aku bangga dengan hal itu.

Sebulan ini Mbeling sendiri, Mister Karyo pupus.

Mbeling lebih senang menghilangkan rasa sepinya dengan menyusuri jalanan kota. Dia menikmati setiap pesona dan wewangiannya. Rintik gerimis kecil turun. Namun dia bersikukuh berjalan pelan, tercengang dengan sorot lampu mobil yang berhimpit. Terdengar olehnya lagu akustik “Patience” yang dibawakan oleh empat anak muda eksentrik di emperan toko, membuatnya berhenti. Melepas penat kesedihannya ke jajaran mobil-mobil yang riuh.

I’ve been walking these streets at night
Just trying to get it right
It’s hard to see with so many around
You know I don’t like being stuck in a crowd
And the streets don’t change but maybe the name
I ain’t got time for the game
‘Cause I need you
Yeah, yeah well I need you
Oh, I need you
Whoa, I need you
Ooh, this time

Menanjak Ciremai

December 22, 2009

“Doanya menyingkap selimut kabut untukku
Menunda mendung menebar bening airnya atasku
Meluluhkan ruh alam untukku
Ibuku titip doa kepada bunga abadi
Lewat aroma yang menyejukkan dahaga jiwaku di sana”



Sekilas dilihat enteng, ternyata setelah nempel di punggung rasanya rucksack yang saya bawa berat. Apa boleh buat dengan beban berat saya berangkat dari Jakarta, sudah ada empat teman terkumpul sedang menunggu di Bandung (Ariza, Agung, Bruury dan Kang Deni). Setelah cek ulang daftar perlengkapan tim selesai pukul 10 malam, kami berlima berangkat ke Kuningan. Malang nian perjalanan bus malam kami. Kami bermaksud istirahat di perjalanan tersebut, namun kru bis malam yang kami naiki justru memutar lagu dengan suara keras, dongkol rasanya.

Sampai di Kuningan pukul 3.30 pagi, kami disambut hangat oleh keluarga Kang Deni. Kami menunggu adzan Shubuh berkumandang sembari menikmati hidangan makanan kecil dari Ibu Kang Deni. Selepas shalat Shubuh, kami tidur pulas hingga adzan shalat Jumat tiba. Satu jam seusai shalat Jumat, kami berlima menyewa satu mobil bak untuk mengantarkan ke pos pendaftaran pendakian di Linggarjati. Di sini kami bertemu dengan rekan-rekan pendaki dari kota Bekasi, mereka berempat kompak dengan kostum kaos berwarna merah. Setelah melakukan pendaftaran, tepat pukul 15.15 sore kami bersembilan orang berjalan tenang meninggalkan pos pendaftaran menuju pos berikutnya, mendaki Ciremai.

Di pos Cibunar kami berhenti sejenak untuk shalat Ashar dan mengisi botol-botol kosong kami dengan air yang sejuk. Kami melanjutkan perjalanan setapak demi setapak, diawali dengan ladang penduduk dan mulai masuk hutan lebat, perubahan vegetasi nampak di sini.

Sebelum pos Condang Amis kami berhenti di tanah datar untuk shalat Maghrib sekalian Isya. Kerlap-kerlip lampu kota Cirebon memanggil mesra kepada kami. Merayu untuk kembali, meninggalkan trek liar mulai terasa menyiksa. Namun kami meradang berjalan dengan pikiran masing-masing.

Melewati pos Pangalap kemudian Kuburan Kuda dengan waktu yang relatif singkat membuat kami optimis bisa mengejar sunrise di puncak Ciremai. Dengan semangat kami bersembilan menempuh tanjakan Bin Bin. Trek ini memiliki jalur yang panjang, di sini rasa optimis kami pudar. Antara mengejar sunrise atau camp untuk melanjutkan perjalanan esoknya. Rekan dari Bekasi mengusulkan untuk melanjutkan perjalanan dengan asumsi waktu tempuh yang sudah kami jalani bisa cepat. Di sini terjadi pertentangan. Tim CnC memilih untuk camp berhubung kami masih jauh dengan puncak, kami sadar bahwa trek di atas jauh lebih sulit dan waktu tempuhnya pun pasti sangat lama. Kami bersembilan berpikir bahwa pos Bapa Tere sudah terlewati. Dengan saling mengajukan argumen masing-masing, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan sampai dua pos di atas. Jika perhitungan waktu sesuai dengan hitungan tim Bekasi, maka sunrise harus dikejar. Jika tidak, maka harus diputuskan camp.

Melewati tanjakan seruni, kami cukup kesulitan dan waktu tempuh kami sangat lambat. Benar-benar tanjakan gila dan jalur trek sangat panjang, tingkat kesulitannya sungguh gila bagi pemula seperti saya ini. Akhirnya kami merasa sangat tertipu. Kami melihat jelas plang bertuliskan “Bapa Tere”. Kami baru sampai di pos Bapa Tere pukul 2 pagi. Rasa tertipu membuat semangat kami benar-benar buyar detik itu juga. Kami ambil keputusan camp, tenda didirikan, kami harus tidur.keputusan yang sangat terlambat. Seharusnya kami tidak kehilangan catatan jumlah pos yang harus dilewati.

Selepas shalat shubuh dan sarapan, bersembilan kami meneruskan perjalanan. Dengan pelan kami melewati pos Lingga Buana I dan Lingga Buana II. Sesampai di pos Sangga Buana Atas, kami meninggalkan semua beban rucksack di sini. Hanya dua rucksack yang dibawa ke puncak dan itupun hanya berisi air minum, buah dan P3K.

Di pos akhir sebelum puncak Ciremai, Pengasinan, sejenak kami melepas lelah. Di pos ini bau belerang terasa sangat pekat. Jalur pos ini menuju puncak sangat terjal dengan dominasi bebatuan, saya pun harus merangkak pelan sekuat tenaga menuju puncak.

Dua teman di depan saya histeris berteriak, Puncak.

Waktu menunjukan pukul 02:00 pm 19 Desember 2009. Sekitar satu jam kami di atap langit Jawa Barat, Ciremai. Langit begitu cerah dan tidak ada tanda hujan maupun kabut saat itu, benar-benar anugrah Tuhan semesta alam dilimpahkan ke kami.

Setelah jeprat-jepret dengan tustel, kami semua turun. Saya berjalan sangat pelan mengikuti ritme Kang Deni di depan saya persis. Kami banyak bercanda dan berbicara sampai rasanya tertinggal jauh dengan teman-teman yang di depan.

Di sini, saya merasa sedikit migrain namun berpikir hal ini wajar karena belum minum kopi sore tersebut. Kang Deni juga bilang bahwa dia merasakan sakit kepala, doh.

Kami berdua akhirnya sampai di pos Sangga Buana Atas. Teman-teman sudah menunggu dengan acara masak memasak santap malam. Waktu menunjukkan pukul 06.00 pm 19 Desember 2009. Setelah makan malam dan mereguk kopi manis, migrain sedikit berkurang namun masih berasa. Ritual makan dan shalat maghrib jamak Isya selesai, kami menyiapkan rucksack masing-masing dan membakar semua sampah. Gelap tersisa api yang membakar sampah, ada sorot lampu dari atas dan suara percakapan. Helo, ada empat orang baru turun dari puncak. Empat orang tersebut dari Bandung, Antapani. Kami pun membaur dan berjalan turun bersama.

Sakit kepala yang dialami Kang Deni ternyata semakin parah, berjalannya pun tidak fokus. Akhirnya kami memutuskan membagi team menjadi dua. Team pertama yang meneruskan perjalanan turun Ciremai adalah 4 teman-teman dari Bekasi, 4 teman-teman dari Bandung, dan 2 teman CnC (Agung, Bruury). Team kedua terdiri atas Ariza, saya dan Kang Deni memilih camp. Kami bertukar logistik menyesuaikan kebutuhan dan obat untuk Kang Deni. Tak lupa, Pak Uud anggota team Bekasi memberikan kartu nama.

Setelah melepas salam, team pertama langsung turun dipimpin oleh Agung. Sedangkan Ariza dan saya serta Kang Deni langsung mendirikan tenda. Tenda berdiri cepat dan Kang Deni diharuskan tidur oleh Ariza, kondisinya sudah parah. Setelah sebelumnya dipaksa makan karbohidrat dan obat. Saya sendiri masih asik memasak air untuk minuman karbohidrat dan kalori. Namun setelah minuman hangat sudah siap, kami tidak bisa memaksa Kang Deni lagi. Dia tidur dan tidak mau dipaksa minum, apaboleh buat saya dan Ariza berdua mencampurnya dengan roti sampai habis. Kami tidur bertiga dalam satu tenda. Kami bersyukur dan berdoa semoga malam tersebut bersahabat dengan kami.

Bunyi-bunyi siamang dan burung yang riuh membuat kami terbangun. Waktu menunjukkan pukul 06:00 am 20 Desember 2009. Shalat shubuh dalam tenda dan secepatnya memasak untuk sarapan. Dengan sisa logistik nasi, telur dan kornet sapi serta minuman cokelat manis panas kami sarapan dengan cepat dan lahap dan alhamdulillah sakit Kang Deni sudah sembuh. Waktu menunjukkan pukul 07:15 am 20 Desember 2009. Kami bertiga turun Ciremai dengan berlari-lari kecil, rehat sejenak, jalan cepat, rehat, lari-lari kecil dengan diselingi obrolan canda ceria.

Waktu menunjukkan pukul 11:25 20 Desember 2009 kami sampai ladang milik warga, kira-kira 400 meter di atas pos Cibunar. Kami bertiga kaget bisa menyusul dua teman anggota team Bandung Antapani. Satu kehabisan tenaga dan lemas tidak punya sisa air minum, dan satu lagi cidera di lutut. Kami pun hanya bisa membantu dengan memberi air minum yang sangat minim, tinggal satu teguk saja. Kami berlima berjalan pelan dengan memberi semangat kedua teman dari Bandung tersebut agar tetap semangat untuk sampai ke pos Cibunar. Dan alhamdulillah kami sampai di pos Cibunar. Waktu menunjukkan pukul 12.30 pm 20 Desember 2009.

Dua teman dari Antapani Bandung lainnya sudah menunggu di warung makan pos Cibunar. Setelah saya tanya beberapa penjual makanan tentang 2 teman CnC dan 4 teman Bekasi yang memakai kaos warna merah, semua menjawab ‘Ooo sudah turun semua, Jang’.

Selesai makan siang kami bertiga bersiap langsung turun, 4 teman dari Antapani tetap ingin berlama-lama di Cibunar. Sebelum kami turun, penjaga pos Linggarjati menyambangi kami di warung tersebut dan kami sebentar berbicara. Dia menanyakan kondisi kesehatan kami, “Alhamdulillah kami bertiga sehat” dan dia tersenyum. Kami bertiga berpamitan dan turun ke pos Linggarjati.

Di pos Linggarjati kami berteduh karena hujan ringan. Kami sempatkan berbicara dengan satu nenek penjual makanan di warung pos Linggarjati. Kami mengulangi pertanyaan tentang 4 teman Bekasi dan 2 teman CnC. Nenek tersebut menjawab ‘Sudah pulang semua, Jang. Sebelumnya mereka bilang kalau ada tiga teman sedang sakit di atas’ . Saya pun langsung teringat dengan penjaga pos Linggarjati yang kami temui di Cibunar. Sebelum naik kami mendaftarkan diri di pos Linggarjati pada penjaga pos dengan catatan bahwa perkiraan kami turun adalah 20 Desember 2009. Karena hal tersebut ditambah dengan informasi tiga orang sakit masih tertinggal di atas, penjaga pos naik ke Cibunar untuk mencari informasi. Dan di sini saya sadar betapa pentingnya naik dari jalur pendakian yang resmi dan mendaftarkan diri. Hal ini berguna agar penjaga pos mengetahui posisi pendaki jika tidak turun tepat pada waktunya. Salut dengan penjaga pos Linggarjati.

Setelah hujan reda, bertiga kami berjalan sampai di depan musium perjanjian Linggarjati untuk mencari angkutan yang bisa mengantar kami sampai di rumah Kang Deni, alhamdulillah dengan cepat angkutan bisa kami temukan dan segera meluncur ke rumah Kang Deni. Sesampai di rumah Kang Deni, kami menghubungi Pak Uut anggota team Bekasi yang sempat turun bersama dengan 2 teman CnC. Kami lega dengan informasi yang diberikan Pak Uud, 4 teman Bekasi dan teman CnC berpisah di terminal Cirebon. Team Bekasi langsung meluncur ke Bekasi dan team CnC meluncur ke Bandung.

Puas melepas lelah di rumah Kang Deni dengan suguhan makanan dan keramahan keluarganya, Ariza dan saya berpamitan. Kami berdua sampai di CnC Bandung pukul 10:00 pm 20 Desember 2009. Alhamdulillah, saya harus tidur secepatnya untuk berangkat ke Jakarta pukul 4:30 am dari terminal Leuwipanjang.

nb: terima kasih Pak Uud UM-1 :)